
di pinggir jalan sebuah simpang desa
laila suntiku berdiri membelakangi belukar
petang jadi penuh dengan lambaiannya
meskipun tanpa suara;
( dia bisu; telah kuketahui kemudiannya)
dia akan melambai pada segenap manusia
yang melintas di depannya;
pekebun, remaja, bilal, bidan, posmen,
guru, pesara semua dilambainya
tak terkecuali aku dan keluarga
soleha, putri bungsuku ketawa melihat gelagatnya
“jangan ketawa, balaslah lambaiannya,
semoga dia gembira”,
menjadi rutin kami sekeluarga
berbalas lambaian setiap petang
pulang kerja
tiba-tiba petang menjadi lengang
seminggu laila tak muncul di simpang
jantungku terasa dicakar
Oleh senja yang membawa khabar
laila digagahi tujuh remaja di belukar
saat soleha bertanya dimana laila
kukesat airmata tergesa-gesa.....